Waspada Brownies Ganja

0
470

Buanainformasi.com – Kian hari, modus peredaran narkoba kian bervariasi. Hal itu dilakukan demi menyamarkan distribusi peredarannya yang ilegal. Salah satu modus terbaru yang terendus Badan Narkotika Nasional (BNN) adalah kue brownies berbahan ganja.

Tak hanya dalam bentuk brownies, ganja ini juga disulap menjadi bentuk makanan manis cokelat. Deputi Bidang Pemberantasan dari BNN, Irjen Pol Deddy Fauzi Elhakim menjelaskan, modus baru peredaran ganja ini terungkap setelah ada masyakarat melapor.

Seorang anak SMP yang membeli brownis mendadak tak sadarkan diri selama dua hari. Orangtuanya yang panik melapor, dan saat dicek makanan yang ia asup ternyata mengandung narkoba. “Kita sedang ungkap kasus ini, lima pelaku penjual brownies ganja telah diamankan,” kata Deddy, pada Senin, 13 April 2015.

Kelima pelaku, ditangkap saat sedang melakukan transaksi jual-beli brownies terlarang di kawasan Blok M Plaza, Jakarta Selatan. Mereka terdiri dari kepala yang bertugas menerima dan mengatur pesanan, lalu ada pembuat kue, seorang yang bertugas menjaga toko, serta dua orang kurir. “Biasanya mereka menjual brownies sesuai pesanan, ironisnya produk ini mereka edarkan ke konsumen tanpa batas usia,” ujar Deddy.

Komplotan itu mengolah daun ganja kering yang dibawa dari Aceh dan tempat lain, lalu dicampur adonan brownies kemudian dimasak layaknya kue biasa. “Rasanya memang manis seperti kue, tapi reaksinya sangat berbahaya, ini sama seperti kita menghisap ganja kering,” terang petugas BNN itu.

Sulit dibedakan

Hingga Selasa, 14 April 2015, BNN mengaku masih menyelidiki jaringan brownies isi ganja yang dijual offline (di mal) dan online. Tentang penjualan secara online, BNN akan berkoodinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk menutupnya. Sebab, mereka tidak punya kewenangan menutup situs itu secara sepihak. Sayangnya, dari pemantauan Viva.co.id, hingga Selasa malam situs yang dimaksud belum juga ditutup.

Dijelaskan, brownies isi ganja ini adalah produk baru yang dikembangkan para pengedar narkotika. Ia sengaja diciptakan, untuk memermudah transaksi jual-beli ganja agar tidak terlacak penegak hukum.

Brownies

Ilustrasi kue brownies. Foto: Istock

Pengedar, membanderol setiap kotak brownies jadi-jadian itu, dengan harga Rp200 ribu. Salah satu pelaku, berinisial IR, mengaku awalnya ia membuat kue ini untuk mengurangi rasa sakit akibat HIV yang ia derita. IR mengaku, sudah menjalankan bisnis itu selama enam bulan dengan pola berpindah-pindah tempat.

“Saya dapatkan ganja dari teman di Jambi,” ujarnya. Ironisnya, ia katakan pembeli brownies buatannya tak hanya dari Jakarta, tapi juga beberapa kota besar lain. Dalam sekali produksi, ia mengaku bisa membuat 20 kotak brownies ganja. Lokasi produksinya di sebuah apartemen di wilayah Tangerang.

BNN katakan, sulit membedakan mana brownies ganja dan mana yang brownies reguler. “Kami tidak bisa membedakan, kecuali sudah diperiksa di laboratorium. Nah, untuk membedakan secara sederhana, misalnya dengan cara mengendus, amat susah,” jelas Deddy. Untuk amannya, masyarakat diimbau hanya membeli brownies di tempat-tempat yang sudah langganan.

Kejadian luar biasa

Menanggapi hal ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengaku sangat kaget. Hal ini masuk ketegori luar biasa, karena selama ini belum ada makanan dicampur narkoba dan efeknya tentu berbahaya. Kepala BPOM, Dr.Ir. Roy Sparringa, M.App.Sc menjelaskan, pihaknya akan makin meningkatkan pengawasan terhadap hal ini.

Roy Sparringga

Kepala BPOM, Dr.Ir. Roy Sparringa, M.App.Sc. Foto: VIVA/Dhea Amanda

Temuan ini sejauh yang saya ketahui adalah kasus pertama. Karenanya BPOM dan BNN akan meningkatkan kerjasama dalam pencegahan dan pengawasan. Produk temuan dalam kasus ini jelas ilegal, karena ganja dalam makanan pastinya tidak terdaftar. Ini sungguh kejahatan luar biasa, dan pelakunya bisa terkena sanksi hukuman mati atau penjara seumur hidup, demikian yang tertera dalam UU Narkotika 35/2009,” ujar Roy.

Menurutnya, kasus ini cukup sulit terdeteksi BPOM, karena bukan kewenangan mereka untuk mengawasi produk ilegal dalam kasus ini ganja dalam makanan yang tidak terdaftar. Untuk itu, Roy berharap bantuan dan partisipasi masyarakat, untuk melapor jika menemukan kasus serupa di kemudian hari.

Tak hanya itu, Roy yakin peredaran online kue ini juga menggunakan jasa pengiriman barang.Untuk itu BPOM akan bekerjasama dengan jasa pengiriman barang guna menangkal kejadian serupa.

“BPOM akan meningkatkan pengawasan obat dan makanan yang dipasarkan di dunia maya. Untuk itu kami akan lebih aktif dalam Forum Penanganan Situs bermuatan Negatif yang dikoordinir Menkominfo,” tambah Roy.

Bahaya keracunan dan overdosis

Sementara itu Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dari Kemenkes, HM Subuh, MPPM menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, peredaran kue brownies dengan campuran ganja sangat tidak dibenarkan.

“Sesuai standar keamanan pangan yang diatur dalam PP 28 tahun 2004, makanan yang aman adalah yang bebas pencemaran mikrobiologi, zat kimiawi seperti ganja dan lainnya,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Kemenkes akan bekerjasama dengan BPOM dan kepolisian untuk memeriksa kandungan makanan tersebut.  Subuh juga menyatakan, bahwa kejadian ini seharusnya menjadi imbauan kepada masyarakat, untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi.

Senada dengan HM Subuh, dokter Tri Ari Wibowo dari laman Meetdoctor mengatakan, narkoba dalam bentuk apapun jika dikonsumsi pasti memberi dampak buruk pada kesehatan. “Walau ia manis seperti brownies pada umumnya, namun efeknya tentu sama dengan risiko konsumsi ganja, yakni bersifat adiktif dan merugikan kesehatan,” ujarnya.

Beberapa gangguan kesehatan yang disebabkan narkoba, di antaranya kualitas otak menurun, hilang konsentrasi dan gangguan pada sistim kekebalan tubuh.

Lebih jauh, Aria mengaku khawatir apabila brownies ini sampai beredar di sekolah, atau lingkungan yang dekat dengan anak-anak. Karena dampak bahayanya serius, sebab kita tidak tahu berapa banyak unsur ganja yang dicampur ke brownies tersebut.

Bahaya pada anak bila mengonsumsi makanan ini, dapat  menyebabkan keracunan akut dan overdosis. Juga penurunan fungsi otak yang mengganggu proses tumbuh kembang anak. (sumber : Viva.co.id)