Tiga Tempat Memikat di Singkawang

0
501

singkawang_663_382Buanainformasi.com, SINGKAWANG – Kalimantan Barat (Kalbar) memang menggoda. Kota yang berjarak sekitar 145 kilometer (km) dari Ibukota Kalbar, Pontianak ini kerap bikin penasaran untuk disinggahi. Tak semata ingin mencaritahu bagaimana kehidupan masyarakatnya, tapi juga menikmati potensi wisatanya.

Saat mendapat kesempatan singgah belum lama ini saya pun tak menyia-nyiakan melahap tempat-tempat eksotik di Singkawang. Kota berpenduduk sekitar 150 ribu jiwa ini ternyata menyimpan keindahan alam berupa pantai yang menggoda. Selain, tentu saja wisata klenteng dengan sajian budaya yang sudah berumur cukup lama.

Perjalanan darat dengan menggunakan bus sedang dari Pontianak ke Singkawang cukup menyenangkan. Waktu tempuh yang berkisar tiga hingga empat jam menjadi terasa tidak begitu melelahkan. Maklum, saat itu saya menjadi penumpang bus carteran sehingga badan tidak lelah mengemudi.

Dari kota Pontianak kami melewati sejumlah lokasi yang eksotik. Rute yang dipilih adalah Pontianak – Mempawah – Bengkayang – Singkawang. Jalan aspal yang dilewati tergolong cukup baik. Hanya saja, lebar jalan beraspal hanya cukup untuk dua bus sedang. Maksudnya, dua bus yang berpapasan masih bisa melintas dengan nyaman. Namun, jika dua bus besar berpapasan, sang pengemudi mesti hati-hati.

Pemandangan yang disajikan di sepanjang perjalan cukup memikat. Di kanan-kiri jalan disodori pemandangan hijaunya pepohonan dan sesekali hunian tapak warga setempat. Selain itu, tentu saja pemandangan sungai dan pantai yang membiru. Bahkan, pada petang hari kita bisa menikmati detik-detik matahari tenggelam alias sunset.

Nah, ketika mendekati kota Singkawang, kita disodori pemandangan perbukitan dan jalan yang berkelok. Dalam perjalanan saat itu, kami kerap berpapasan dengan angkutan berupa bus sedang, pesepeda motor, dan mobil pribadi.

Tiga Tempat

Tempat pertama yang cukup memikat untuk disinggahi adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya di Pusat Kota Singkawang. Inilah salah satu bangunan yang dilindungi oleh Undang Undang No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Bangunan klenteng yang cukup ramai dikunjungi wisatawan atau mereka yang hendak sembahyang ini masuk dalam Registrasi Daerah No 6172/S/0002.

Saat saya singgah, klenteng ini dipadati oleh para wisatawan. Di bagian luar, wisatawan banyak yang mengabadikan klenteng dengan kamera profesional maupun kamera ponsel. Tentu saja tak sedikit yang berpose di bangunan yang terletak di Jalan Sejahtera, Singkawang.

Bangunan yang oleh warga setempat disebut Tai Pak Kung(Toa Pekong) ini dikenal cukup bersejarah. Diperkirakan usianya seumur dengan sejarah keberadaan komunitas Tionghoa Singkawang. Komunitas itu sendiri ditaksir sudah berusia lebih dari 200 tahun. Tahun 1933, menurut laman http://www.cintasingkawang.com, kelenteng Tri Dharma Bumi Raya Singkawang diperluas dan dibangun baru. Namun, pada 1936 pernah terjadi kebakaran sehingga klenteng ini kembali direnovasi.

Siang itu, saat saya berkunjung, di bagian dalam tampak banyak warga yang sedang beribadah. Wangi yang ditebarkan oleh hio yang dibakar menyebar di bagian dalam Vihara. Seorang kolega saya, Eddy Hussy dengan khusu menjalankan sembahyang. Ditangannya terdapat hio berwarna merah.

Suasana religius begitu kental. Pesan-pesan mulia terukir di tembok bangunan vihara. Salah satunya berbunyi “Berteman dengan orang yang berkarakter mulia adalah seperti masuk ke dalam sebuah kamar yang penuh dengan mawar yang wangi, jika kamu tinggal di ruangan itu cukup lama kamu akan menjadi wangi – Konfusius.”

Pesan lain yang cukup penting adalah “Kedamaian mudah dipelihara, kesulitan mudah diatasi sebelum dimulai, yang rapuh mudah dihancurkan, yang kecil mudah menyebar. Cegahlah sebelum terjadi. Buatlah teratur sebelum ada kekacauan – Tao Te Ching.”

Dari pesan tersebut saya menangkap isyarat tingginya tingkat toleransi warga kota Singkawang.

Tempat kedua. Tak jauh dari klenteng tersebut berdiri Masjid Raya Singkawang. Masjid yang berdiri megah dengan dominan warna hijau menjadi tempat ibadah umat muslim kota Singkawang. Masjid yang dibangun pada 1885 oleh Kapitan Bawasahib Marican asal India itu juga pernah terbakar pada 1927. Namun, tempat ibadah umat muslim itu kemudian dibangun kembali pada 1936. Bahkan, setelah mengalami sejumlah renovasi masjid itu kini memiliki menara yang menjulang ke angkasa.

Di sisi bangunan masjid torehkan kutipan ayat suci Munajat Hamba, “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah aku, angkat derajatku, beri aku rezeki, beri aku petunjuk, sehatkan aku & maafkan aku.”

Itulah esensi doa diantara dua sujud, Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’kni warzuqni wahdini wa’afini wa’kfu ‘anni (O Lord, Forgive me, Bless me, Rectify me, Raise my status, Give me my Sustenance, Guide me, Strengthen me and Pardon me).

Tempat ketiga. Selain pusat kota yang identik dengan arsitektur Tiongkok, tempat lain yang layak dikunjungi adalah kawasan wisata Pasir Panjang. Lokasinya di pinggir kota. Jika kita datang dari arah Pontianak, kawasan wisata pantai ini menjemput kita sebelum masuk ke kota Singkawang.

Pasirnya yang putih, birunya air laut, serta hijaunya perbukitan seakan berpadu untuk mengunci kita tak ingin pulang dari kawasan yang satu ini. Pantai pasir putihnya memanjang hingga sekitar tiga kilometer. Untuk memasuki kawasan ini kita akan melewati jalan kecil yang cukup dilintasi satu bus ukuran besar. Segarnya udara pantai di tengah teriknya cuaca Singkawang, membuat kita berlama-lama menikmati sepoi-sepoinya angin laut.

Saat itu saya singgah ke arena wisata pantai Bajau Bay. Tiket untuk masuk ke kawasan ini relatif terjangkau yakni berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu tergantung hari libur atau tidak. Sejumlah arena bermain seperti kora-kora dan perahu ayun, serta perahu cukup menggoda untuk dijajal. Sedangkan di sisi pantai terdapat restoran atau cafe untuk menikmati segarnya air kelapa muda sambil bercengkerama.

Nah, di bagian bukit terdapat Bajau Bay Hotel yang cukup megah. Hotel yang dominan berwarna keemasan itu berdiri kokoh di punggung bukit. Saya sempat menjajal naik dan turun sambil berjalan kaki, lumayan. Dari hotel ini pemandangan ke teluk demikian indah. Sontak banyak wisatawan yang juga berpose dengan latar belakang teluk.

Kebetulan saat itu sedang ada pagelaran budaya barongsai dan tatung. Suara tetabuhan dan petasan sempat bercampur baur. Atraksi demi atraksi dinikmati dengan penuh perhatian oleh para wisatawan, terutama saat atraksi tatung atau debus. Adegan bagian wajah yang ditusuk benda tajam dan atraksi menginjak pedang tajam membuat penonton menahan nafas. (sumber : Viv a.co.id)