Teror Kikil Berpengawet Mayat

0
440

pedagang-daging-sapi_663_382Buanainformasi.com – Impian masyarakat untuk dapat mengkonsumsi makanan murah nan lezat kembali terusik oleh peredaran zat kimia berbahaya pada bahan makanan. Kini, tak hanya daging, kikil pun bisa dicampur formalin.

Kikil merupakan olahan dari kulit hewan, biasanya sapi dan kerbau. Di banyak resep kuliner nusantara, kikil ini menjadi bahan favorit untuk membuat tumis, gulai, atau soto.

Pengolah dan pengedar kikil dengan campuran formalin ini sudah tentu tak peduli dengan kesehatan dan nyawa para calon konsumen. Yang penting, uang mengalir masuk ke kantong mereka, walau konsumen harus makan kikil berpengawet mayat, larutan yang sudah tentu berbahaya bagi kesehatan manusia.

Merebaknya kikil berformalin itu diawali dari penggerebekan enam rumah di Kalideres, Jakarta Barat, oleh anggota Kepolisian Resor Metro (Polrestro) Jakarta Barat beberapa waktu lalu. Di sana, polisi menemukan ratusan kilogram kulit hewan dalam kondisi terendam dalam bak-bak tampung dengan air berwarna keruh dan mengeluarkan bau menyengat.

Polisi juga menemukan ratusan kilogram kulit hewan yang telah disulap hingga menjadi bahan pangan murah meriah bernama kikil. Kikil ditemukan dalam kondisi terikat dan teronggok, siap untuk diedarkan ke pasar-pasar di ibu kota.

“Kami awalnya mendapat laporan warga sekitar pada awal Januari 2015 lalu, tentang adanya kegiatan ilegal ini. Setelah itu ditemukan, ada enam industri rumahan pembuat kikil,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Putu Putra Sadana.

Mungkin banyak yang bertanya, kenapa polisi menggerebek rumah produksi kikil mentah?

Jawaban pun terungkap saat petugas dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (PBOM) yang ikut dalam penggerebekan itu memperlihatkan sebuah tabung reaksi yang berisi cairan berwarna agak ungu.

“Positif formalin, pak,” kata petugas itu kepada polisi. Ternyata, dari enam rumah itulah dihasilkan kikil berformalin yang selama ini beredar di pasaran.

Kikil berformalin hasil produksi Kalideres itu diproduksi dengan cara mengolah kulit sapi dan kerbau yang didapatkan dari wilayah Tangerang dan daerah Jawa Tengah.

Dari tempat itu, dalam setiap harinya sedikitnya dihasilkan satu ton kikil siap olah. “Kikil diedarkan ke pasar-pasar tradisional di Jakarta dan Tangerang,” papar AKBP Putu.

Jika dilihat, sekilas tak ada yang bakal tahu jika kikil hasil produksi rumahan Kalideres itu telah terkontaminasi dengan zat kimia mematikan. Karena, formalin yang digunakan untuk memproduksi kulit menjadi kikil tidak memiliki warna dan larut dalam air.

Kikil berformalin bakal lebih sulit lagi untuk dikenali jika kikil-kikil sudah
berada di lapak-lapak pedagang kikil di pasar tradisional.

Sebenarnya dalam proses produksi kulit menjadi kikil tidak dibutuhkan zat kimia apapun terutama formalin. Karena, dalam proses produksi kikil hanya dibutuhkan air panas untuk merebus kulit ternak segar agar bisa menjadi kikil.

Namun bagi pengusaha kikil yang tamak, penggunaan formalin dalam proses produksi kikil sangatlah penting. Alasannya, agar kikil hasil produksi awet dan tidak mudah busuk sehingga dapat dijual meski sudah berhari-hari disimpan.

“Biasanya dicampur (formalin) sebanyak satu sendok teh, itu biasanya untuk produksi 50 kilogram kikil,” ungkap S, seorang pengusaha kikil berformalin yang diciduk polisi di Kalideres.

Menurut S, kikil yang sudah direndam dengan formalin biasanya akan lebih tahan lama meski berada di alam terbuka.

“Bisa awet sampai seminggu dan tetap bisa dijual karena nggak berbau. Kalau nggak pakai formalin, sehari juga sudah busuk,” paparnya.

Kikil berformalin dijual dengan harga yang sama dengan kikil non formalin, satu kilogram kikil formalin dijual seharga Rp 17.000.

Bahaya Formalin Bagi Manusia

Pada dasarnya, zat kimia yang bernama formaldehida itu diciptakan bukan untuk dikonsumsi manusia. Formalin digunakan untuk membasmi bakteri. Karena itulah dewasa ini formalin lebih sering dimanfaatkan sebagai disinfektan yang digunakan untuk membersihkan lantai dan juga pakaian.

Di dunia medis, formalin kerap dimanfaatkan dalam proses vaksinasi dan juga pengawetan jenazah. Kepala BPOM DKI Jakarta, Roy Sparringa menuturkan, jika dikonsumsi manusia dalam jumlah banyak, formalin dapat menyebabkan kematian.

“Sangat disayangkan bila ada produsen nakal yang mencampurkan zat berbahaya ke dalam kikil. Terlebih untuk ibu hamil dan anak-anak, konsumsi bahan makanan berformalin bisa mengancam masa depan, mengingat efek jangka panjang yang ditimbulkan. Untuk itu kami akan terus mengawasi agar hal ini tidak terjadi lagi,” ujar Roy.

Cara Mengenali Kikil Berformalin

Konsumsi kikil di Indonesia sangat tinggi, terutama di rumah makan kecil, seperti warung nasi di pinggir jalan.

“Konsumsinya bahkan meningkat sebanyak dua sampai tiga persen ketika hari-hari besar, seperti momen Ramadan dan hari raya Idul Fitri,” papar Roy.

Roy mengatakan pentingnya bantuan masyarakat untuk sama-sama memantau, dan mencegah peredaran produk membahayakan ini. “Kalau ada yang tahu informasi seperti ini, segera laporkan ke kami,” katanya.

Tindak pencegahan juga penting untuk mengetahui apakah kikil yang dibeli, mengandung formalin atau tidak. “Untuk mencegahnya, Anda bisa mencium dari baunya,” kata Roy.

Jika mengeluarkan bau yang lebih menyengat dari biasa, maka kikil yang dibeli bisa jadi mengandung formalin dan sebaiknya urung dikonsumsi. Ia menjelaskan, kikil berformalin juga biasanya warnanya lebih putih.

Selain itu, bijak dalam memilih tempat berbelanja juga bisa menjadi kunci pencegahan konsumsi kikil berbahaya. Carilah bahan mentah di supermarket, yang sudah jelas menjual bahan segar tanpa formalin. Dengan begitu, kesehatan tak akan terganggu zat-zat berbahaya yang akan mengancam tubuh. (sumber : Viva.co.id)