Suhu Bumi Makin Panas, Kutub Utara Mengecil

0
536

cuaca-super-panas-di-australia_663_382Buanainformasi.com – Temperatur Bumi semakin hari semakin memanas akibat perubahan iklim. Bahkan, bulan Maret 2015 dinobatkan sebagai bulan dengan suhu terpanas sejak 1880.

Berdasarkan data yang dirilis dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), suhu rata-rata pada tiga bulan pertama di tahun 2015 tidak mereda, melainkan semakin meningkat dan memanas. Bahkan, tak dipungkiri bahwa bulan selanjutnya akan mencatatkan suhu tinggi terbaru.

Suhu rata-rata bulan Maret lalu mencapai 56,4 derajat fahrenheit atau setara 13,6 derajat celcius. Suhu tersebut menjadi yang tertinggi untuk abad ke-20 dengan rata-rata naik 1,5 derajat fahrenheit atau 0,85 derajat celcius.

“Bulan Maret merupakan suhu tertinggi dari tahun 1880 hingga 2015, melebihi rekor sebelumnya, dari 2010 sebesar 0,09 derajat fahrenheit (0,05 derajat celcius),” tulis NOAA dalam laporannya, dikutip dari Daily Mail, Senin, 20 April 2015.

Sementara itu, bila dirata-rata dalam tiga bulan pertama tahun ini, suhunya mencapai 1,48 derajat fahrenheit (0,08 derajat celcius). Angka itu di atas rata-rata suhu di abad ke-20 ini.

Para ilmuwan terus berupaya memperingatkan bahwa pembakaran bahan fosil dapat mendorong gas rumah kaca ke atmosfer. Ini akan menyebabkan percepatan peningkatan suhu di Bumi. Selain itu juga menyebabkan mencairnya es di kutub dan gletser yang berakibat naiknya permukaan air laut.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah semakin mengecilnya kawasan es Kutub Utara. Pada bulan Maret lalu, es di tempat tersebut semakin mencair, sehingga daratan esnya semakin menciut.

“Rata-rata penyusutan di Kutub Utara bulan Maret lalu sekitar 430 ribu mil (7,2 persen), di bahwa rata-rata tahun 1981-2010,” jelas NOAA.

Badan ilmiah Amerika Serikat ini juga memperingatkan, bila kondisi temperatur suhu Bumi ini tak ‘didinginkan’ maka tahun 2015 ini akan menjadi tahun terpanas mengalahkan rekor-rekor sebelumnya.

Para ilmuwan juga mempercayai akibat makin panasnya Bumi manusia ini, dikarenakan adanya El Nino. El Nino merupakan suatu peristiwa dimana terjadinya gejala penyimpangan (anomali) pada suhu permukaan Samudera Pasifik. Seperti diketahui, El Nino menjadi salah satu faktor kuat yang mengubah iklim di Bumi.

“Berdasarkan pengamatan secara terus-menerus, rata-rata suhu permukaan laut di seluruh barat dan tengah khatulistiwa Samudera Pasifik secara konsisten menekan. Kita dapat mengatakan bahwa El Nino sudah sampai di sini,” ungkap Wakil Direktur Prediksi Iklim Pusat NOAA, Mike Halperlt. (sumber : Viva.co.id)