Sosok di Balik Emas Renang Indonesia

0
474

 atlit renangBuanainformasi.com -SINGAPURA,   “Begitu atlet sukses meraih emas, hati saya selalu ingin seperti menangis ketika mendengar Indonesia Raya berkumandang.” Begitu diungkapkan Eko Sulistyanto, masseur (ahli pijat) sport tim renang Indonesia di sela-sela perhelatan SEA Games Singapura 2015.

Eko merupakan salah satu sosok di balik kas SEA Games XXVIII. Dari tangan pria asal Semarang itulah, kondisi para atlet renang Indonesia, termasuk Indra Gunawan yang menyabet emas, bisa tetap terjaga.

Teknik masseur sport adalah suatu tahap awal dalam metode fisioterafi. Ketika kondisi tubuh atlet tidak dalam keadaan fit, pijat menjadi treatment yang sangat efektif untuk mengatasi kebanyakan keluhan.

Dalam melaksanakan tugasnya, ahli pijat kerap bekerja sama dengan staf pelatih yang bertugas mengecek kadar asam laktat dalam tubuh atlet. Jika kadar laktat atlet tinggi, ahli pijat harus segera memberikan pijatan agar kondisi atlet itu kembali normal dan siap bertanding.

“Semua keluhan atlet biasanya akan disampaikan kepada masseur. Dalam renang itu wajar jika tubuh atlet berlaktat tinggi. Jika sudah begitu, atlet tersebut harus dipijat dan tugas saya memberikan pijatan untuk mereka. Tugas saya ini berlaku sebelum atau sesudah pertandingan,” ujar Eko.

Konsisten
Eko memulai kariernya bersama tim nasional renang Indonesia pada 2007. Ia mendapatkan kepercayaan dari pelatih kepala Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI), Hartadi Nurtjojo, ketika sukses lolos seleksi Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas Atlet Nasional Indonesia (Satlak Prima).

Kala itu, seleksi diberlakukan cukup ketat agar mampu menjaring masseur-masseur olahraga berkualitas. Bahkan, tak hanya sekedar menyeleksi, perwakilan Satlak Prima pun ikut serta dipijat agar dapat mengetahui standar pijatan yang dipraktekan oleh calon masseur.

“Setelah mencoba pijatan, mereka kemudian mengajarkan kami teknik dan cara-cara yang benar. Setelah itu Pak Hartadi mengatakan, ‘Kalau kamu mau melakukan apa yang saya ajarkan, suatu saat kamu pasti ikut pelatnas terus’. Hal itulah yang saya lakukan sampai sekarang,” kenang Eko.

Konsisten menjalan pesan Hartadi, Eko akhirnya menuai hasil yang setimpal. Ia pun menjadi “idola” atlet-atlet renang Indonesia di setiap kali mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional.


Terhitung sejak 2007, Eko tiga kali ikut serta pada gelaran SEA Games Laos di 2009, Jakarta (2011), dan Myanmar (2013). Selain itu, pria berusia 35 tahun itersebut juga menjadi tumpuan utama atlet renang pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008 di Samarinda dan 2012 Pekanbaru.

“Jika bertugas, saya tiap hari bangun pukul 05.00 dan pulang dari kolam hingga pukul 23.30. Setelah itu baru bisa istirahat. Lelah sih iya, Mas. Tetapi, saya senang karena mungkin berkat konsisten seperti ini, Alhamdulillah, saya sampai sekarang tetap dipercaya oleh tim renang,” tutur Eko.

“Dari awal Pak Hartadi mengatakan, jangan memandang ini (masseur) sebagai pekerjaan yang sulit. Jangan memandang gaji yang bakal diterima. Pasti orang memang akan memandang sebelah mata dan beda, tetapi tidak masalah karena pasti pengalamanmu bertambah banyak,” bebernya.

Berharga
Kini, Eko bersama ofisial kontingen renang Indonesia kembali mendapatkan pengalaman berharga di SEA Games 2015. Maklum, tim renang Indonesia dianggap gagal lantaran hanya meraih satu emas dari total lima yang ditargetkan.

Satu-satunya medali emas diperoleh Indra Gunawan di nomor 50 meter gaya dada pada hari terakhir lomba renang, Kamis (11/06/2015). Secara keseluruhan, tim renang Indonesia menduduki peringkat kelima pengumpulan medali dengan satu emas, delapan perak, dan tujuh perunggu.

Meski begitu, Eko menilai hasil yang diperoleh atlet Indonesia di Singapura haruslah tetap diapresiasi. Ia pun berharap agar kegagalan di Singapura bisa dijadikan pembelajaran bagi berbagai pihak agar dapat kembali meraih hasil terbaik pada setiap kejuaraan yang akan datang.

“Saya tak pernah lelah karena ini demi bangsa dan negara. Apalagi, melalui pekerjaan seperti ini saya bisa mendengarkan Indonesia Raya berkumandang di antara bendera-bendera negara lain. Jadi, Insya Allah saya akan menekuni bidang ini hingga saya tidak dibutuhkan lagi,” tutur Eko.