Satu Tahun MH370, dari Pamitan sampai Dianggap Jatuh

0
568

Malaysia-Airlines780x390JAKARTA, Buanainformasi.com – Tepat satu tahun yang lalu, 8 Maret 2014, pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 rute Kuala Lumpur – Beijing menghilang dari pantauan radar saat terbang di atas laut China Selatan, tengah malam.

Saat itu, tidak ada panggilan bahaya yang dikeluarkan oleh pilot yang mengawaki Boeing 777 tersebut. Kondisi cuaca dilaporkan tergolong baik saat itu, tidak ada saksi mata juga yang melihat adanya ledakan di udara.

Yang terjadi adalah, sebuah penerbangan yang awaknya “berpamitan” dari satu menara kontrol (FIR/flight information region), namun tidak sampai “menyapa” menara kontrol selanjutnya.

MH370 pada malam itu berada di waypoint yang bernama IGARI pada Sabtu (8/3/2014) pukul 01:21 dini hari waktu Malaysia. Waypoint IGARI sendiri berada di radial 059 derajat dari radar VOR Kota Bharu.

Di waypoint IGARI inilah MH370 mematikan transpondernya. IGARI berada di batas antara FIR Malaysia dan FIR Ho-Chi-Minh. Saat itu ATC memerintahkan pilot MH370 untuk mengontak ATC Ho Chi Minh di frekuensi 120,9 MHz.

“MH370, please contact Ho Chi Minh City 120.9, good night,” demikian perintah ATC seperti transkrip yang dipublikasikan oleh News.com.au pada 22 Maret 2014 lalu.

MH370 pun menjawabnya dengan, “All right, good night.”

Namun setelah ATC Malaysia mengoper kendali ATC ke Ho Chi Minh, MH370 tidak pernah melakukan kontak dengan petugas ATC di Ho Chi Minh. Alih-alih seolah mengatakan salam perpisahan dengan mengucap “selamat tinggal.”

Pesawat yang hilang (atau jatuh, jika memang benar telah jatuh) itu pun kemudian memunculkan berbagai pertanyaan. Bagaimana mungkin sebuah pesawat berbadan lebar layaknya Boeing 777 hilang, atau jatuh tanpa meninggalkan jejak sama sekali?

Bahkan, serpihan-serpihan seperti penutup atau bantalan kursi penumpang, masker oksigen, atau kopor bagasi ratusan penumpang tidak ditemukan, baik di daratan maupun mengambang di lautan.

Mengambil contoh kasus kecelakaan Indonesia AirAsia penerbangan QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata, Kalimantan Barat pada Minggu (28/12/2014). Serpihan badan pesawat Airbus A320 tersebut tak butuh waktu lama untuk diketemukan, bahkan tak jauh dari lokasi terakhir pesawat yang terpantau radar.

Pada umumnya, bagian pesawat yang hancur, entah itu hancur saat di udara atau saat berbenturan dengan permukaan laut, serpihan-serpihannya akan mengambang karena sifat materi yang digunakan, seperti serpihan potongan badan pesawat, kursi, pelampung, dan sebagainya.

Selain itu, benturan juga akan memicu ELT (Emergency Locator Transmitter) yang ada dalam kotak hitam pesawat akan terpicu dan memancarkan sinyal darurat informasi lokasi pesawat jatuh.

Belum lagi kotak hitam pesawat juga bisa memancarkan sinyal selama kurang lebih 30 hari yang bisa dilacak, meski di dasar laut. Seperti kasus Air France penerbangan AF447 di Samudera Atlantik, 1 Juni 2009, atau Adam Air KI574 yang jatuh di perairan Majene, Makassar, pada 1 Januari 2007.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa sebuah pesawat secanggih B777 bisa hilang tanpa jejak? Padahal semua teknologi seperti di atas juga dimiliki oleh Boeing 777 Malaysia Airlines.

Apalagi, B777 milik Malaysia Airlines tersebut juga dilengkapi dengan sistem data satelit Inmarsat, satelit komunikasi yang banyak digunakan oleh maskapai penerbangan di seluruh dunia, juga kapal-kapal dagang untuk melacak posisinya.

Semenjak hilangnya MH370 hingga kini, berbagai analisis dari para pengamat penerbangan dan investigator di seluruh dunia pun bermunculan. Bahkan, teori-teori konspirasi pun muncul dengan menyangkut-pautkannya dengan operasi yang dilakukan oleh badan intelijen AS.

Informasi yang simpang siur

Menurut Jeff Wise, penulis buku The Plane That Wasn’t There yang tulisannya juga dimuat di New York Magazine, (23/2/2015), peristiwa seperti MH370 ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan salah satu hal yang membuat MH370 terkesan misterius dan penyelidikannya sulit untuk dilakukan adalah karena informasi dari pihak berwenang Malaysia yang simpang siur.

Misalnya, Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak yang pada pagi 8 Maret 2014 mengumumkan lokasi jatuhnya MH370 diperkirakan di Laut China Selatan. Pencarian besar-besaran pun dikerahkan pada pagi yang naas itu.

Namun, tak lama setelah itu, pihak berwenang Malaysia mengumumkan pencarian juga dilakukan di Laut Andaman, yang notebene jaraknya terpisah sejauh 400 mil.

Informasi yang beredar belakangan menyebut bahwa radar milik militer Malaysia sempat menangkap sinyal MH370 walau pesawat tersebut telah mematikan transponder dan hilang dari radar sipil.

Pada mulanya, pihak Malaysia membantah kabar yang menyebut MH370 terbang ke arah barat, atau berbelok 180 derajat dari arah semula. Namun setelah satu minggu pencarian dilakukan di Laut China Selatan, pihak Malaysia mengakui bahwa mereka mengetahui kalau MH370 sempat berputar berlawanan arah yang seharusnya.

Informasi baru, harapan baru?

Inmarsat, operator penyedia layanan komunikasi data yang juga dipakai oleh Malaysia Airlines, pada saat itu mengetahui bahwa salah satu satelitnya yang kebetulan melintas di sekitar Samudera Hindia, menangkap sinyal yang dipancarkan MH370 selama tujuh jam setelah transponder pesawat dimatikan.

Menurut pihak Inmarsat, dengan menggunakan perhitungan matematika, serta handshake yang terjadi antara sistem di pesawat dengan satelit milik Inmarsat, pesawat diketahui mengirimkan lokasinya secara periodik.

Data yang digunakan adalah data burst frequency offset, atau disingkat BFO, yang merupakan salah satu aspek dari handshake satelit.

BFO dihitung dengan mengukur perubahan panjang gelombang sinyal yang ditentukan oleh posisi pesawat relatif terhadap satelit.

Handshake atau “ping” yang terjadi antara sistem komunikasi Inmarsat yang tertanam dalam B777 MH370 dengan salah satu satelit Inmarsat tersebut tidak mengandung data lokasi, melainkan hanya interval panjang gelombang saja, atau jarak yang menuju ke penjuru arah dari satelit berada.

Melalui data jarak interval itulah Inmarsat membuat plot lokasi pesawat berdasar panjang gelombang transmisi. Hasilnya adalah lokasi yang berbentuk seperti garis melingkar setengah lingkaran, dengan sumbu utamanya adalah posisi satelit berada.

Busur setengah lingkaran itu pun membentang sepanjang 6.000 mil dari sebelah utara di perbatasan antara Kazakhstan dan Tiongkok, dan di sebelah selatan di Samudera Hindia.
NYMag
Lokasi MH370 berada berdasar ping dari satelit milik Inmarsat.
Pada saat itu, belum diketahui apakah MH370 terbang ke utara atau ke selatan. Namun pada tanggal 24 Maret 2014, Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak mendapat informasi dari sumber yang menurutntya bisa dipercaya, yang menyatakan bahwa MH370 sejatinya terbang ke arah selatan.

Berdasar informasi yang didapat Razak tersebut, pesawat sebenarnya terbang ke arah selatan, dan dengan menimbang bahwa di area tersebut tidak ada tempat yang memungkinkan sebuah B777 mendarat, ditambah perhitungan jumlah bahan bakar yang dibawa MH370 saat itu sudah habis, maka Malaysia Airlines pun menyimpulkan bahwa pesawat MH370 telah jatuh.

Saat itulah keluarga dan kerabat dari seluruh penumpang MH370 diberitahu oleh pihak Malaysia Airlines agar bisa menerima kenyataan bahwa orang-orang yang mereka cintai telah meninggal.

“Malaysia Airlines deeply regrets that we have assume beyond any reasonable doubt that MH370 has been lost and that none of those on board survive” demikian pemberitahuan resmi yang dikeluarkan oleh Malaysia Airlines.

“We must now accept all evidence suggests the plane went down in the Southern Indian Ocean,” tulis Malaysia Airlines.

Dianggap sebagai kecelakaan

Pada Januari 2015, pemerintah Malaysia mengumumkan bahwa pesawat milik maskapai Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370 yang hilang, secara resmi dinyatakan mengalami kecelakaan, dan semua penumpang beserta awak dianggap meninggal dunia.

“Dengan berat hati dan duka cita mendalam, atas nama Pemerintah Malaysia, kami secara resmi mengumumkan Malaysia Airlines penerbangan MH370 mengalami kecelakaan,” demikian kata perwakilan Departemen Penerbangan Sipil Malaysia, Azharuddin Abdul Rahman.

“Ke semua penumpang beserta awak yang berjumlah 239 orang dianggap meninggal dunia,” imbuh Azharuddin.

Pernyataan ini akan memperjelas situasi bagi keluarga penumpang yang berhak mendapatkan kompensasi, dan bagi Malaysia Airlines untuk mengajukan klaim asuransi.

Pencarian tanpa hasil

Otoritas Malaysia pun bekerja sama dengan pihak Australia untuk menggelar pencarian besar-besaran di sekitar ping terakhir MH370 berada, yaitu di sebelah selatan India atau di Samudera Hindia.

Namun pencarian yang sudah dilakukan dalam waktu satu tahun tersebut belum menunjukkan tanda-tanda pasti lokasi MH370 berada.

Perdana Menteri Australia, Tony Abbott mengisyaratkan bahwa skala pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang satu tahun lalu mungkin akan dikurangi.

Saat berpidato di parlemen, Kamis (5/3/2015), Tony Abbot mengatakan Australia menempuh segala cara yang masuk akal untuk menemukan pesawat penumpang yang mengangkut 239 orang itu.

Namun ia menambahkan bahwa ia tidak bisa menjanjikan pencarian dengan intensitas sekarang akan dilanjutkan selamanya. Australia memimpin tim internasional untuk mencari MH370 di Samudera Hindia.

Meski demikian Abbot tetap berharap pesawat yang hilang itu akan segera ditemukan.
Beberapa kali tim pencari menemui obyek mengapung di perairan Samudera Hindia, namun berkali-kali juga obyek tersebut ternyata bukan obyek serpihan dari MH370 yang mereka cari.

Tidak satu pun serpihan badan pesawat, bantalan dan penutup kursi penumpang, masker oksigen, kopor penumpang dalam bagasi pesawat B777 dengan registrasi 9M-MRO itu diketemukan. MH370 hilang bak ditelan lubang hitam.

Benarkah MH370 hilang begitu saja? Apa analisis dari para ahli dan pengamat penerbangan selama ini? Benarkah data yang dipublikasi valid? Apa rekomendasi dari badan penerbangan sipil internasional (ICAO) agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari? (sumber : Kompas.com)