Rendahnya Harga Ubi Kayu, Gubernur Lampung Surati Jokowi

0
652

BUANAINFORMASI.COM-Rendahnya harga ubi kayu mendorong Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo mengajukan  surat kepada Presiden Joko Widodo.  surat bernomor 525.28/1904/04/2016 menyampaikan sejumlah usulan serta upaya untuk mengatasi merosotnya harga ubi kayu. demikian disampaikan Humas dan Protokol Bayana melalui Kabag Humas Heriyansyah, senin (19/09/2016) di Bandar Lampung.

Dalam surat tersebut gubernur menyampaikan 3 (tiga) usulan diantaranya meminta Presiden menghentikan ataupun  mengurangi Kuota Import Tepung Tapioka guna menjaga stabilitas harga Ubi Kayu dalam negeri. memberikan wewenang kepada pemerintah Provinsi Lampung agar dapat membuat kebijakan penentuan harga dasar (floor price) Ubi Kayu yang layak bagi petani khususnya di Provinsi Lampung. Dan dukungan dari pemerintah pusat dalam pengembangan dan penganekaragaman olahan hasil ubi kayu melalui sentuhan teknologi. seperti olahan ubi kayu menjadi Beras, Keripik atau olahan pangan lainnya.

Kabag Humas Heriyansyah menjelaskan, harga ubi kayu saat ini mencapai harga terendah yaitu Rp 500/kg. sedangkan harga yang layak diterima petani Rp 800/kg. “hal ini menyebabkan petani merugi.  jika dibiarkan, maka akan berdampak meningkatnya angka kemiskinan dan rendahnya kesejahteraan petani, ” jelas Kabag.

Heri menambahkan, salah satu penyebab merosotnya harga ubi kayu yaitu masuknya Impor Tapioka dalam jumlah besar. berdasarkan Data Impor Tepung Tapioka Nasional BPS,  sampai bulan juni 2016 Indonesia masih mengimpor tepung tapioka sebesar 415.253 ton (us$154.157.928). harga ini lebih murah jika dibandingkan produksi dalam negeri.  sehingga berpengaruh langsung terhadap harga dan permintaan produksi tapioka, khususnya di Provinsi Lampung.

sementara berdasarkan Data Bps 2015, produksi ubi kayu sebesar 7,38 juta ton.  angka ramalan i (ARAM) 2016 sebesar 7,82 juta ton. “produksi ini menempati peringkat pertama nasional dengan luas panen 298.299 hektar.  rata-rata kepemilikan yaitu 0,6 hektar,” Tutup Heri. (Rilis Humas/ Editor Buana)