Pusat Perjuangan Rakyat Lampung Galang Solidaritas Peduli Korban Banjir di Lampung

0
452

Bandar Lampung, buanainformasi.com – Hujan berkepanjangan menyebabkan terjadinya Banjir dibeberapa Daerah di Lampung. Banjir terjadi di Pesawaran, Pringsewu, Lampung Tengah, Lampung Timur dan sejumlah titik di Kota Bandar Lampung (terdapat 685 Rumah Warga terendam banjir dari 20 Kecamatan sekota Bandar Lampung :data BPBD  Kota Bandar Lampung).

Permasalahan tersebut mendapat perhatian serius dari Pusat Perjuangan Rakyat Lampung (PPRL) mengingat permasalahan ini bukan suatu hal yang baru karena terus berulang setiap tahunnya dikala musim hujan dan belum ada perhatian serius dari pemerintah terkait untuk menyelesaikan hal tersebut secara kongkrit.

Menyikapi hal ini PPRL menggelar kegiatan solidaritas guna menggalang partisipasi publik untuk membantu masyarakat yang terkena bencana banjir di Lampung. kegiatan Panggung Music bertajuk “Panggung Solidaritas Peduli Korban Banjir Lampung” beragendakan penghimpunan bantuan berupa bahan-bahan pokok, pakaian, obat-obatan dll yang kemudian nanti akan disalurkan secara langsung kebeberapa titik daerah yang terkena bencana banjir. kegiatan yang dilaksanakan di Kedai Union Way Halim Bandar Lampung ini dihadiri banyak kalangan diantaranya Mahasiswa, Organisasi Kemasyarakatan dan Band-Band Music Lokal di Lampung.

Kordinator Kegiatan Andri AN mengatakan Intensitas tingginya curah hujan di Lampung seharusnya dapat diantisipasi oleh Pemerintah daerah dengan membangun drainase yang optimal sehingga fungsi aliran air menuju muara terintegrasi dengan baik sehingga tidak menimbulkan banjir, karena realitasnya saat ini sungai-sungai yang berfungsi sebagai sarana untuk mengoptimalkan aliran air menuju muara dalam kondisi kotor dan menyebabkan tersumbatnya aliran air dan membuat kondisi sungai mendangkal.

Lanjutnya, minimnya kawasan terbuka hijau sebagai daerah resapan air karena saat ini banyak daerah yang seharusnya digunakan sebagai daerah kawasan terbuka hijau kini di alih fungsikan menjadi bangunan-bangunan megah seperti mall perhotelan dll dan sistem pengairannya pun tidak jelas.

Reynaldo Sitanggang selaku Humas kegiatan menambahkan bahwa pemerintah harus mengevaluasi beberapa kebijakan daerah yang mengedepankan kebijakan pembangunan fisik semata tanpa mempertimbangkan sisi ekologisnya. “di Bandar Lampung misalkan banyak kegiatan pengerukan kawasan perbukitan yang seharusnya digunakaan sebagai daerah resapan air. Kemudian kegiatan penimbunan laut atau reklamasi di teluk lampung yang akan mempersempit muara sungai yang ada di kota bandar lampung seperti muara sungai yang ada di kecamatan Panjang, Bumi Waras dan Teluk yang menjadi titik banjir di kota bandar lampung. pengerukan bukit, pengalihfungsian kawasan ruang terbuka hijau, dan reklamasi jelas merupakan faktor penyumbang terjadinya banjir di kota Bandar Lampung”,jelasnya. (Red/Rls)