Ponpes pecandu narkoba di Malang andalkan kelapa muda obati pemadat

0
685

Buanainformasi.com ponpes-pecandu-narkoba-di-malang-andalkan-kelapa-muda-obati-pemadatPondok pesantren Bahrul Mahgfiroh Kota Malang menjadi salah satu dari tujuh pesantren di Indonesia yang menjadi institusi penerima wajib lapor (IPWL) para pecandu narkotika. Penunjukan tersebut dilakukan oleh Kementerian Sosial (Kemensos), karena selama ini dikenal sebagai salah satu pesantren yang mengembangkan pengobatan korban narkoba berbasis pesantren.

Ponpes Bahrul Mahgfiroh dipimpin oleh Lukman al Karim atau Gus Lukman berlokasi di Jalan Joyo Agung Nomor 2, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Sejak 1995 sudah mulai menerima pasien pecandu narkoba.

Sudah ratusan pasien berhasil dipulihkan kondisinya seperti semula dengan pengobatan yang dikembangkan secara khusus di lingkungan pesantren. Setiap tahun merehabilitasi antara 50 sampai 100 orang. Proses penyembuhan pasien membutuhkan waktu sekitar 6 bulan.

“Terapi yang kami dilakukan mengutamakan pendampingan dari tokoh atau figur yang sabar dan bisa memberikan motivasi,” kata Lukman Hakim di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Jumat (26/6).

Para pecandu, kata Lukman, dalam kondisi rohani yang kurang baik, sehingga dengan gampang diiming-imingi sesuatu yang baru bagi mereka. Para korban narkoba mendapat janji sesuatu yang enak dan menjanjikan, padahal merusak tubuh dan kehidupannya.

“Kita mengobati mereka dengan pendekatan kekeluargaan, agamis dan diorangkan, itu kuncinya” katanya dengan merendah.

Lukman menghibahkan tanahnya seluas 2,3 ha untuk pendirian balai rehabilitasi korban. Di tempat itu yang kemudian oleh Kementerian Sosial akan didirikan bangunan untuk panti rehabilitasi. Lukman merelakan tanahnya karena prihatin dan ingin membantu pemerintah melalui ilmu yang dimilikinya.

“Anak-anak sudah jauh dari harapan orangtua. Kami prihatin dan ingin membantu pemerintah agar generasi muda bisa menyenangkan orangtuanya. Berbakti pada orangtua, bangsa dan negaranya. Rasa berbakti pada bangsa dan negara sudah terkikis,” katanya.

Gedung yang dibangun oleh pemerintah itu akan menambah daya tampung para pecandu narkoba di Jawa Timur. Rencananya akan bisa mulai digunakan tahun depan. Tempat itu katanya, akan digunakan sebagai tempat isolasi.

“Karena memang tidak bisa antara yang sehat dan yang sakit dicampur. Mereka biasanya diisolasi selama 3 hari, dibuat lapar atau dipuasakan. Baru kemudian diberi makanan yang sudah diberi doa-doa,” katanya.

Selama proses pengobatan, Lukman mengaku tidak mengenal detok yang biasa dilakukan panti rehabilitasi lain. Saat para pasiennya mengalami sakau, cukup menggunakan pemijatan. Sementara detoknya diganti dengan minum degan ijo atau kelapa muda secara rutin.

“Kita lakukan pijatan, tidak mengenal detok. Detoknya dengan degan ijo. Sehari kita kasih tiga kali minum degan,” katanya.

Kini, Lukman mengaku tengah menyiapkan tenaga medis untuk mendukung pengobatannya. Karena memang harus memadukan antara pengobatan yang dimilikinya dengan teknologi kedokteran.

“Saya sedang menyiapkan tenaga kedokteran. Butuh perpaduan untuk saling melengkapi, kami terbuka menerima ilmu,” katanya.(Sumber : Merdeka.com)