Pimpinan ‘Umrah Gratis’ Disebut Setengah Wali

0
432

terduga-pimpinan--umrah-gratis--agus-santoso_663_382Buanainformasi.com – Pencarian terhadap sosok Agus Santoso, tergolong cukup sulit. Hingga saat ini, tak ada yang tahu benar siapa Agus Santoso yang diketahui sebagai pria kelahiran tahun 1983 asal Yosowilangun Lumajang, Jawa Timur.

Rombongan jamaah umrah gratis pun terus mencari Agus Santoso, pimpinan sekaligus penebar janji-janji manis. Seperti janji terakhirnya, memberikan ongkos transportasi untuk pulang kampung sebesar Rp5 juta hingga Rp12 juta per peserta umroh gratis.

“Janjinya kan tangggal 21 dan 22 Maret ini mau memberi ongkos transportasi jika umrah batal. Saya masih menunggu janji itu,” kata Andi, peserta umroh gratis asal Sulawesi Selatan Jumat 20 Maret 2015.

Meskipun banyak janji yang meleset, namun Andi dan empat kerabatnya memutuskan tetap menunggu sambil terus mencari keberadaan Agus Santoso, pimpinan umrah gratis. “Saya akan terus mencari, kalau janji tak ditepati saya akan laporkan dan tuntut dia,” ancamnya.

Selain sosok pria yang menurutnya berpostur tubuh kecil, tak banyak hal lain yang diketahui Andi tentang Agus Santoso.  “Dia mengaku anak angkat Muhammad Eddy alias Anthony Salim,” katanya.

Agus beristrikan Lia yang dikenal sebagai kolektor barang antik. Lia diangkat sebagai anak pada 2011 oleh Eddy lantaran wajah dan kebiasaannya mirip mendiang anak perempuannya. Setelah menjadi mualaf, katanya, Eddy berjanji bersedekah membiayai umat muslim untuk umrah.

Selain umroh, Eddy, juga menjanjikan ziarah ke tanah suci di Vatikan bagi umat Nasrani dan ziarah ke India bagi umat Hindu dan Budha. Eddy, katanya, merupakan pengusaha perkebunan sawit. Kini Eddy tengah berada di Cina dan berjanji segera menemui jamaah umroh dan memberangkatkan ke tanah suci.

Sosok Agus Santoso menurut Andri Joko Susilo, Ketua RT 2 Rw3 Kelurahan Bunul Kecamatan Blimbing Kota Malang banyak dianggap memiliki sejumlah keistimewaan oleh anggota rombongan yang menginap di Hotel Serayu Malang. “Beberapa anggota rombongan menyebut Agus ini setengah wali, tahu sebelum terjadi,” kata Andri, ketua RT tempat Hotel Serayu berada.

Meskipun selalu menolak jika diajak bertemu Agus, namun anggota rombongan selalu menuturkan hal hal istimewa tentang Agus. “Katanya Agus ini istimewa karena bisa merangkul seluruh jamaah dari berbagai kalangan selama berbulan-bulan. Saya sendiri tak pernah ketemu Agus,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang jamaah yang juga merekrut peserta Pangestuningsih juga mengaku ditipu. Perempuan asal Kalianak, Asemrowo, Surabaya ini sebelumnya telah merekrut sebanyak 177 orang dari Tulangbawang dan Mesuji dari Provinsi Lampung, Makassar, Palembang dan Temanggung.

Mereka telah membayar administrasi Rp 150 ribu dan dijanjikan menjalani tes kesehatan pada 22 Februari 2015. Namun, jadwal pemeriksaan kesehatan terus mundur dan tak terealisasi sampai sekarang.

“Jamaah menuntut segera diberangkatkan. Mereka menuduh saya ini yang bertanggung jawab, saya juga tertipu ini,” katanya.

Awalnya ia mempercayai umrah gratis tersebut. Lantaran sejumlah bekas pejabat dan petinggi militer ikut mengelola PT Citralia Carla Setiapsari milik Agus Santoso untuk mengelola umroh gratis.

Salah satunya,menurut Ningsih adalah bekas Duta Besar Bosnia pada tahun 2000 Saodah Batin Akuan, yang juga meminta Ningsih merekrut 200 orang. Selain diberangkatkan umrah, jamaah dijanjikan uang saku Rp25 juta. Ningsih sendiri dijanjikan bonus uang tunai Rp400 juta.

“Sampai sekarang tak terealisasi. Tak ada uang sepeserpun yang diberikan pada saya,” katanya.

Rombongan yang direkrutnya pun terus meminta umrah pada Ningsih. Sekitar 70 jamaah dari sejumlah lokasi itu kini masih tinggal di Surabaya, dekat kediaman Ningsih. “Mereka tinggal di salah satu karyawan Agus Santoso di Surabaya. Kami akan terus mencari Agus,” katanya.

Menggunakan nama PT Citralia Carla Setiapsari milik Agus Santoso, diduga perekrutan jamaah umroh sudah berlangsung sekitar satu tahun terakhir. Kasus ini terungkap setelah puluhan warga Mesuji Lampung dilaporkan hilang di Polres setempat.

Setelah dilacak, diketahui sekitar 380 orang telah berada di Hotel Serayu Malang selama lima bulan terakhir. Sedangkan sekitar 177 rombongan Ningsih juga berada di Malang sekitar satu bulan terakhir. Posisi terakhir rombongan mengingap di vila Kalendra, Songgoriti, Kota Batu. Namun sejak 19 Maret 2015 mereka meninggalkan vila. Diduga mereka selain pulang ke rumah masing-masing, sebagian pindah ke Surabaya. (sumber : Viva.co.id)