Pengrajin Tikar Tradisional Butuh Perhatian Pemerintah

0
555

Tulang Bawang Barat, buanainformasi.com-Perempuan tua itu terlihat serius, tangannya sibuk menganyam sebuah tikar, matanya fokus melihat daun mendong, sesekali ia bangun untuk melihat masakannya ke dapur. Beginilah kehidupannya sehari-hari yang ia jalani, Selasa(10/11/2015)

Simuis (60), seorang janda tua, warga desa  Karta Raharja, Rk. 07/ Rt. 28, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung, disebuah rumah kecil milik anaknya, ia bekerja sebagai pengrajin tikar daun mendong demi mencari penghasilan untuk kebutuhan  hidupnya Sehari-sehari. Pekerjaan ini sudah ia jalankan sejak ditinggal suaminya, sepuluh tahun yang lalu.

Proses pembuatannya pun memakan waktu cukup lama karena daun mendong harus  dijemur selama beberapa hari dan di tutu, setelah itu direbus dengan zat pewarna tikar berbagai variasi seperti hijau, ungu dan merah. Dengan ukuran tikar 4 x 3,5 meter, Simuis dapat menyelesaikan satu tikar setiap minggu, yang ia jual kepada warga sekitar dan agen yang biasa membeli. Sebuah tikar ia jual dengan harga Rp 10.000 ribu,paparnya.

Simuis, berharap kepada pemerintah dearah agar dapat membantu dirinya, untuk meringankan beban kehidupannya Sehari-hari, “ Saya beharap Perhatian dari Pemerintah, selama ini saya belum pernah mendapatkan batuan apapun, Beras Raskin saja saya tidak dapat.”ungkapnya.(Hendra)