Penggunaan Gas untuk Domestik Ditingkatkan

0
494

Buanainformasi.comgas alam, JAKARTA,  – Pemanfaatan gas alam cair (LNG) untuk kebutuhan dalam negeri terus ditingkatkan. Sebanyak empat Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG)  ditandatangani, kemarin Selasa (30/6/2015), di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

PT Pertamina (Persero) dan Eni Muara Bakau, perusahaan afiliasi ENI, bersama-sama dengan mitrakerja lainnya, yaitu Gaz  De France Seuez dan Saka Energi, menandatangani PJBG LNG dengan volume 1,4 juta ton per tahun, selama tujuh tahun. Gas bersumber dari proyek pengembangan lapangan gas Jangkrik,yang akan mulai diproduksikan tahun 2017.

Menteri ESDM Sudirman Said menyambut baik kerjasma antara Pertamina dan ENI. Sebab, keberadaan Pertamina sebagai anchor buyer, akan menggerakkan eksplorasi dan pengembangan lapangan gas di wilayah kerja lainnya.

“Yang patut kita syukuri dari penandatanganan Pertamina-ENI, maka proyek deepwater  development (IDD) di Selat Makassar dengan investasi 4 miliar dollar (Rp 52 triliun) bisa berjalan. Ini pencapaian yang sudah lama ditunggu-tunggu,” kata Sudirman dalam sambutannya, Selasa.

PJBG Muara Bakau untuk Lapangan Jangkrik dan Lapangan Jangkrik North East ini menandai dimulainya proses komersialisasi dan investasi proyek migas laut yang sebagian besar produksinya dialokasikan untuk domestik. Produksi dua lapangan sebesar 450 juta kaki kubik per hari ini diharapkan akan memicu penggunaan gas/LNG sebagai upaya diversifikasi bahan bakar minyak (BBM) jangka panjang.

Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Unit Pelaksana Hulu Migas (SKK Migas) Zikrullah mengatakan, setelah proyek Lapangan Jangkrik ini berjalan, maka akan terbuka peluang untuk menggerakkan proyek-proyek berikutnya antara lain Ande-Ande Lumut dan IDD yang memerlukan investasi sebesar 850 juta dollar AS dan 12 miliar dollar AS.

Di samping penandatanganan PJBG antara Pertamina-ENI, ditandatangani pula PJBG antara Pertamina dengan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), sebuah perusahaan patungan dari Mitsubishi, KOGAS, dan Medco.

Pembelian kargo oleh Pertamina dari DSLNG merupakan milestone yang sangat penting, karena merupakan kargo pertama yang dijual DSLNG dan diperuntukkan konsumen domestik. Kargo ini akan dikirimkan ke Terminal Regasifikasi Arun untuk memasok industri di kawan Sumatera bagian utara.

Komitmen pasokan LNG tersebut akan menambah volume komitmen pasokan LNG Pertamina, yang sebelumnya telah mendapatkan komitmen sebanyak 1,52 MTPA dari Cheniere melalui Corpus Christi Project yang akan dimulai pada 2019, dan 1 MTPA  dari Afrika yang akan dimulai pada awal 2020.

“Seluruh pasokan LNG tersebut akan  digunakan untuk memenuhi permintaan gas domestik yang meningkat tiap tahunnya. Pertamina siap untuk menjalankan peran penting, terutama dalam pengadaan LNG dan perkembangan kebutuhan infrastuktur seperti LNG regasifikasi dan penerimaan fasilitas seperti pipa gas di Indonesia,” terang Direktur Energi Baru Terbarukan Pertamina Yenni Andayani.

Adapun PJBG lain yang ditandatangani yaitu, PJBG antara PT Pertamina Gas Niaga (Pertagas) dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, untuk mengatasi krisis energi di wilayah Sumatera Utara.

PGN membeli gas dari Pertagas sebesar 8 MMSCFD hasil regasifikasi dari LNG di Arun yang mengalir melalui pipa transmisi gas Arun-Belawan yang dioperasikan Pertagas. PJBG ini merupakan bentuk kerjasama antara Pertamina dan PGN untuk memberikan jaminan pasokan gas ke industri dan kelistrikandi Sumatera Utara, sehingga diharapkan membantu pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

Informasi saja, Pertagas tengah membangun ruas pipa gas Belawan – Kawasan Industri Medan – Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, di mana kawasan-kawasan tersebut merupakan kantong-kantong permintaan gas, baik untuk ketenagalistrikan maupun industri manufaktur.

Dengan status kemajuan proyek yang saat ini mencapai sekitar 72 persen, Pertagas menargetkan penyelesaian pekerjaan pipa tersebut pada September 2015.

Dijumpai usai penandatanganan, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menuturkan, peran Pertamina sebagai anchor buyer diharapkan mampu mendorong pengembangan sebuah blok. Untuk PJBG dengan Eni Muara Bakau,  Pertamina mengaku tidak khawatir jika gas yang dibeli ternyata tidak terserap oleh pasar.

“Dari Eni Muara Bakau ada dua part. Bagian pertama 100 persen untuk market domestik, dan itu sudah dikalkulasi semua. Bagian kedua, kalau domestik tidak terserap Pertamina diberikan izin untuk melakukan ekspor. Dan itu bagus, salah satu babak baru Pertamina menjadi anchor buyer. Kalau ada anchor buyer, maka pengembangan blok produksi lebih cepat. Tantangan bagi Pertamina adalah mengembangkan market networking baik dalam maupun luar negeri,”  terang Dwi.(Sumber : Kompas.com)