Pembunuhan Deudeuh dan Bisnis Esek-esek Online

0
1044

deudeuh-alfisahrin-semasa-hidup-_663_382Buanainformasi.com – Profesi Deudeuh Alfisahrin, janda muda satu anak yang dibunuh di tempat indekosnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan belum terkuak.

Meski pada akun Twitternya, wanita 26 tahun ini kerap mem-posting percakapannya dengan sejumlah pria yang bertamu ke tempat indekosnya, tapi keluarga dengan tegas membantah kalau Mpi –panggilan akrab Deudeuh– adalah wanita penjaja cinta.

Menurut keterangan sejumlah saksi, wanita yang dikenal tertutup soal kehidupan pribadinya itu memang miliki banyak teman pria yang kerap datang ke kamar indekosnya.

Dalam profile akun Twitter @tataa_chubby, Mpih bahkan secara gamblang menuliskan informasi yang tidak biasa. Bahkan, mengarah bahwa dia mengungkap “informasi pribadi” melalui media sosial.

“25 Tahun, 168/65/34B/putih. Open BO include room 350 sejam 1x keluar. Include room/caps, serious only, no BBM, no WA, SMS only. No nego, real account,” begitu isi profil Mpih.

Deudeuh Alfisahrin semasa hidup.

Guna memburu pelaku pembunuhan wanita yang juga dikenal temperamental ini, polisi mendalami buku catatan pria-pria yang pernah datang ke tempat indekos Mpih. Beberapa dari mereka telah diperiksa dan polisi sudah mengarah pada orang yang diduga sebagai pelakunya.

Selain itu, polisi memeriksa alat kontrasepsi bekas pakai yang berisi cairan sperma yang ditemukan di kamar Mpih.

“Kalau dari hasil pemeriksaan tim identifikasi memang ada cairan sperma yang tertinggal. Apakah itu hasil dari hubungan badan atau tidak masih didalami,” katanya.

Psikolog Zoya Amirin mengatakan, informasi di Twitter seperti yang ditulis Mpih soal percakapannya dengan tamu-tamunya adalah teknik jualan.

“Mereka bisa mengekspose diri mereka, tanpa tanpa orang bisa menyentuh. Banyak respons dan ini meningkatkan nilai jualnya. Karena mendapatkan like banyak,” katanya

Cara-cara jualan melalui media sosial membuat pelakunya cepat dikenal. Dia akan memiliki jaringan yang lebih luas. Tapi, apa yang menimpa Mpih tentu akan membuat orang tidak nyaman melakukan transaksi melalui media sosial.

“Diharapkan ada efek jera. Mengekspose diri di media sosial memang memiliki risiko tinggi sekali,” katanya.

Saat ditanya ada anak SMP yang menjadi pelanggan prostitusi melalui media sosial, Zoya menjelaskan bahwa menurut penelitian, memang banyak pelajar usia 17 hingga 19 tahun memulai hubungan seks pertamanya dengan PSK atau melalui jalur prostitusi.

“Cenderung mencoba kepada PSK atau prostitusi, apalagi pria, ini sangat mungkin,” katanya.