Musa Widyatmodjo: Industri Mode RI Masih Jalan di Tempat

0
434

Buanainformasi.com – Musa Widyatmodjo merupakan desainer _musa-widyatmodjo_663_382Indonesia yang sudah 24 tahun berkarya. Dalam jangka waktu hampir seperempat abad itu, rancangan pria kelahiran 1965 ini didominasi busana wanita.

Selama lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia mode, Musa pun menjadi pengamat yang terjun langsung di bidangnya. Dengan pengalamannya sebagai perancang, juga eksistensinya sebagai pengurus dan pembina organisasi mode berskala nasional, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia, Musa cukup jelas memetakan peta mode Tanah Air.

Tidak hanya itu, dia juga bisa melihat posisi industri mode Indonesia di liga fesyen dunia. Oleh karena itu, VIVA.co.id berbincang dengan Musa mengenai masa depan industri mode Indonesia, serta langkah-langkah konkret apa yang harus dilakukan guna mewujudkan cita-cita besar, Indonesia sebagai pusat mode dunia di 2025.

Topik lain yang juga diperbincangkan VIVA.co.id dengan desainer ramah tersebut mengenai kelangsungan karir Musa sebagai perancang mode serta partisipasinya di ajang Jakarta Fashion Food Festival yang akan berlangsung 21 Mei 2015 mendatang.

Berikut petikan wawancara VIVA.co.id bersama Musa Widyatmodjo:

Dalam pandangan Anda, bagaimana perkembangan fesyen Indonesia 5 tahun terakhir?

Perkembangannya banyak, tapi hanya dari segi kuantitas, dalam artian, event fesyen banyak banget, desainer muda juga banyak bermunculan. Tapi kalau bicara industrinya, ya gitu-gitu saja dari 5 tahun terakhir.

Maksudnya? Tidak ada perkembangan yang berarti?

Menurut saya sih begitu. Sekarang lihat saja, brand Indonesia di mal di mana? Desainer mana yang ada di Sogo, Pasaraya, Metro, Seibu, Galleries Lafayette. Mana desaimer Indonesia, mana industrinya? Saya saja bukan industri yang gimana-gimana, saya masih UKM. Kalau berdasarkan permodalannya, masuk ke industri menengah.

Lalu, dengan kondisi yang demikian, apakah Indonesia bisa jadi fashion capital di 2025?

Mudah-mudahan tercapai tetapi dengan kategori fashion capital untuk fashion craft. Itu yang orang sering lupa katakan. Orang bilang Indonesia itu fashion capital. Bukan. Indonesia itu maju dalam bidang fashion craft, seperti sulaman dan detail-detail pada kain dan busana.

Di liga mode Asia, dimanakah posisi Indonesia?

Sebagai apa dulu, kalau sebagai pemakai, Indonesia juara, tapi kalau sebagai industri Indonesia ketinggalan. Thailand lebih bagus industri fesyennya. Industri retail juga. Kalau dari luar masuk ke Indonesia, Indonesia jagonya. Tapi kalau retail Indonesia di Indonesia kalah dengan Thailand di Thailand atau Malaysia di Malaysia. Kalau se-Asia susah. Saingannya ada Korea, Taiwan dan Jepang.

Siapakah kompetitor terberat Indonesia di Asia Tenggara?

Thailand, Vietnam, Laos mulai menjadi saingan. Ini karena kesadaran masyarakatnya untuk menghargai, mengapresiasi, memberikan tempat terhadap produk lokal mereka sendiri. Kesadarannya konsumen Indonesia untuk menggunakan produk Indonesia masih kurang.

Lalu, apa hal paling penting dalam memajukan fesyen Indonesia?

Paling urgent adalah menyadarkan orang-orang fesyen itu sendiri bahwa ini bukan pekerjaan yang gampang. Bukan hanya sekadar peragaan busana, bukan sekadar branding. Tapi riset dan pertanggungjawaban dari sebuah inovasi.

Tentang koleksi Mas Musa sendiri, bagaimana dengan fashion show yang akan digelar di Jakarta Fashion Food Festival 2015 nanti?

Ini adalah wujud proses 5 tahun trial & error. Laku atau enggak, bahannya luntur atau tidak, juga eksperimen lainnya. Fashion show ini juga menunjukkan bahwa saya sekarang sudah berani untuk bikin koleksi full untuk pria.

Berapa banyak koleksi yang akan Anda hadirkan di JFFF 2015 nanti?

Total 40-50 set dan menghadirkan 20 model pria ditambah 3 muse yang aktif di dunia masak, presenting dan film. Temanya Luxury Men, pria dengan segala kemewahannya, yang bisa menikmati kekayaan Indonesia tanpa harus terbebani terlalu modis atau lainnya.

Tantangan selama pembuatan?

Tantangannya bagaimana menyatukan berbagai motif dalam satu busana. Itu kerjaannya desainer, bagaimana mempertahankan setiap keaslian kain dan membuatnya bisa dipakai.

Sebagai desainer, Anda cenderung memilih pekerjaan tangan, ada alasan tersendiri?

Saya memang lebih suka menggunakan tenaga kerja manusia, artinya pekerjaan tangan, tradisional. Tapi saya juga pakai kain modern. Tapi, koleksi Musa itu intinya semua tentang detail, semua pekerjaan tangan.

Bagaimana Anda mempertahankan hubungan dengan pengrajin?

Komunikasi, kepercayaan, relationship. Itu harus terus dijaga.

Untuk koleksi ini, apa yang menjadi inspirasi Anda?

Saya mengembangkan inspirasi dari K-pop. Fesyen mereka kan sudah lama. Mereka berani tabrak motif. Bagaimana itu bisa menjadi Musa. Saya mengambil intisarinya.

Ada rencana kembali go international?

Dulu saya ada dari koleksi M by Musa yang saya pasarkan di New York. Tapi nggak saya teruskan karena pekerjaan rumahnya beda lagi. Jadi pengembangan internasional perlu konsentrasi khusus. Oleh karena itu, untuk sementara proyek internasional semua saya pending.

Tidak ada jangka waktunya karena saya pikir gini, brand internasional semua masuk ke Indonesia. Lalu kenapa kok kita ingin go internasional. Suatu saat brand Musa Widyatmodjo bisa keluar tanpa musti go internasional. (Sumber : Viva.co.id)