Mendag: Aprindo Wajib Menjual Beras Sesuai HET

0
261

Jakarta, BuanaInformasi.com – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk bisa menyediakan beras premium sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang terdorong naik karena melambungnya harga beras kualitas medium.

Enggartiasto dalam jumpa pers usai rapat membahas stabilisasi harga dan pasokan beras bersama distributor dan asosiasi perdagangan ritel di Kementrian Perdagangan, Jakarta, Kamis (11/1) malam, membenarkan adanya kenaikan harga beras medium.

“Kalau ini berjenjang menarik semuanya maka ini bisa jadi kegiatan yang spekulatif. Untuk itu, Aprindo wajib menjual dan menyediakan beras premium sesuai dengan HET,” ujar enggar.

Enggar juga mengarahkan pemasok wajib menjual dan memasok pengusaha beras tanpa harus menaikan harga beras.

“Bagi pengusaha ritel yang mendapatkan pemberitahuan dari pemasok bahwa harganya naik, beritahu kami untuk kami telusuri, dan kami akan panggil mereka atas dasar apa mereka menaikan harga beras. Kami akan periksa mereka,” katanya.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey dalam kesempatan yang sama mengatakan siap membantu menyediakan beras berkualitas premium sesuai dengan HET yang telah ditentukan. Asosiasi yang beranggotakan 35 ribu lebih toko ritel yang tersebar diseluruh Indonesia itu berniat untuk mengkampanyekan harga beras yang telah hampir stabil.

“Melalui (rapat) malam ini, bisa dipastikan kami sudah siap jual sesuai HET dan sekaligus kampanye dengan bentuk spanduk supaya masyarakat tahu harga saat ini adalah harga yang telah disepakati,” katanya.

Menurut Roy, stabilisasi harga juga akan segera terjadi setelah keputusan importasi sebelum panen raya pada Februari-Maret mendatang.

“Ketika ada kepastian bahwa dstributor dan pemasok harus jual ke anggota kami sesuai HET yang disepakati maka kami juga pastikan bahwa toko ritel moden juga akan menjual sesuai HET tersebut,” katanya.

biarpun tidak menyebut besaran harga kenaikan beras premium di tingkat ritel, Roy mengatakan pihaknya telah berupaya menahan sesuai HET.

Meski demikian, selain terkendalan biaya logistik, kondisi harga di kawasan timur Indonesia memang sulit ditahan karna ketersediannya yang kurang.(*)