Kisah Tragis Putri Kesultanan Banten yang Dibunuh Pujaannya

0
735

situs-makam-ibu-bagus_663_382Buanainformasi.com – Kebagusan adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kelurahan ini berbatasan dengan Pasar Minggu di sebelah utara, Ragunan di sebelah barat, Lenteng Agung di sebelah timur, dan Jagakarsa sebelah selatan.

Daerah Kebagusan dulunya adalah hutan jati yang cukup lebat, meliputi kawasan Kebun Binatang Ragunan hingga Pejaten, dan daerah Cilandak, serta Jagakarsa sekarang.

Di pinggir Jalan Kebagusan II terdapat sebuah makam tua. Makam di pinggir jalan itu nyaris tak menarik perhatian karena lahannya sempit, teronggok begitu saja.

Makam ini terjepit sejumlah rumah mewah. Sekilas mungkin dianggap makam warga biasa. Warga Betawi sejak dulu memang memiliki tradisi mengubur jenazah di sekitar rumah, di halaman belakang atau samping rumah.

Ternyata makam mungil itu memiliki andil besar dalam era berikutnya. Nama wilayah kebagusan  berasal dari nama orang yang dikuburkan di makam tersebut, yaitu Nyai Tubagus Ratih Nursiyah. Makam Ibu Bagus. Demikian masyarakat setempat akrab menyebut makam itu.

Penemuan makam itu memiliki cerita unik. Pada suatu ketika pada saat fajar tiba, terjadi kebakaran besar yang menghanguskan hutan jati, sekarang terkenal daerah yang bernama Jatipadang yang artinya hutan jati yang setelah kebakaran menjadi terang (terang dalam Bahasa Jawa: padang), hingga diketahui adanya makam dia. Hal ini terbukti dengan adanya makam Ibu Bagus, begitu sebutan warga Kelurahan Kebagusan yang terletak di Jalan Kebagusan II RT. 001/07.

Konon, dari makam itulah nama Kampung Kebagusan muncul. Kampung tempat Ibu Bagus pernah berdiam hingga akhir hayatnya.  Begitu lekat kisah Ibu Bagus di Kampung Kebagusan hingga namanya pun terabadikan.

Berkarpet rerumputan hijau yang tercukur rapi, area makam seluas 3×7 meter ini dibatasi dinding bercat putih setinggi hampir satu meter. Sebuah pohon kamboja dan sejumlah tanaman penuh dedaunan pun tumbuh subur di sekeliling nisan yang dipugar 11 Oktober 1999.

Makam yang dianggap keramat itu sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Makam ini ramai diziarahi setiap malam jumat atau hari jumat.

“Saya yang biasa membersihkan makam ini. Saya juga ikut membangun saat makam ini dipugar,” ujar Misdi juru kunci makam Kebagusan.

Berakhir tragis

Sesepuh Kebagusan yang ditemui menceritakan  Ibu Bagus adalah putri Kesultanan Banten yang begitu kesohor. Hidupnya sekitar jaman kerajaan Banten. Saking cantiknya, banyak pria yang mati-matian memperebutkan Ibu Bagus.  Bahkan, kecantikannya pula yang membuat hidup Ibu Bagus berakhir tragis.

Cerita yang diperoleh dari leluhur, Ibu Bagus meninggal lantaran dibunuh pria pujaannya. “Biar sekalian tidak ada satupun yang mendapatkan Nyai,” ujarnya.

Versi lain menyebut, Ibu Bagus meninggal karena bunuh diri. Bu Bagus bunuh diri karena ingin menyelamatkan setiap laki-laki yang saling membunuh karena ingin memperebutkannya.

Kisah kematian Ibu Bagus memang beragam. Sebelum meninggal, sesepuh Kebagusan yang akrab disapa Engkong Damat juga mewariskan kisah tentang Ibu Bagus kepada juru kunci makam. “Nyai memang dikenal cantik dan sakti. Apabila ada yang menginginkannya harus mengalahkan Nyai terlebih dahulu,” kata Misdi menirukan cerita Engkong Damat.

Dalam perkembangannya, makam Ibu Bagus dianggap membawa keberuntungan bagi para peziarah yang memujanya. Ketika zaman togel, porkas dan SDSB sedang populer pada masa Orba, banyak orang dari berbagai daerah datang untuk mencari informasi nomor buntut. “Tak jarang ada yang sampai menginap di makam,” ujarnya.

Tidak sedikit peziarah yang mendatangi makam Ibu Bagus untuk mencari wangsit. Sebagian besar dari mereka mengaku bosan hidup miskin, dan datang ke makam untuk meminta kekayaan. Ada juga yang ke makam mencari ketenangan batin.

“Peziarah macam-macam permintaannya baik soal kehidupan atau rejeki,” katanya. (sumber : Viva.co.id)