Kisah Tragis Ayah dan Anak Tewas Berpelukan di Rawabuaya

0
511

stasiun-kereta-rawa-buaya_663_382Buanainformasi.com – Pukul tiga siang itu, suasana di sekitar pintu perlintasan kereta api Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat tak seramai hari-hari biasa.

Di sepanjang jalan yang tak begitu lebar itu, hanya terlihat beberapa kendaraan melintas dengan kecepatan sedang.

Dari kejauhan terlihat seorang pria melajukan sepeda motor merahnya secara perlahan menyisiri ruas jalan.

Di jok belakang, terlihat seorang gadis kecil berbaju kuning memeluk erat tubuh pria yang tak lain adalah ayahnya.

Sembari terus mengendalikan laju sepeda motornya, pria itu tak henti-hentinya bercengkrama dengan putri kecilnya.

Tak terasa, sepeda motor yang dipacu dengan kecepatan tak lebih dari 40 kilometer per jam itu sampai juga di perlintasan kereta api Rawa Buaya.

Pria itu tampak ragu saat akan melintasi bentangan rel kereta api apalagi tepat di depan sepeda motornya juga terdapat sebuah mobil yang juga terhenti menanti kereta api.

Mereka terlihat ragu karena dari arah Stasiun Kereta Api Rawa Buaya, samar-samar sudah mulai terdengar suara alarm tanda kereta api sudah mendekat.

“Mobil itu nekat melaju melintasi, tapi dengan kecepatan tinggi,” kata Wahyu seorang saksi hidup dari kisah ini, Rabu 18 Maret 2015.

Melihat mobil sudah melintasi bentangan rel, pria bersepeda motor yang akhirnya diketahui bernama Ahmad Junaedi pun tergerak untuk menarik pegangan gas sepeda motornya.

Sepeda motor dengan nomor polisi B 6053 KG itu pun melaju semakin mendekati bentangan rel.

Tapi apa yang terjadi, dari arah kiri tanpa disadari muncul kepala kereta api listrik berwarna merah oranye dengan jarak yang sudah sangat dekat.

“Saya lihat, bapak itu terkejut dan ia berusaha menyelamatkan anaknya, ia memeluk tubuh anaknya yang masih terduduk di jok belakang,” kata Wahyu mengisahkan peristiwa nahas itu.

Sedetik kemudian, suara benturan benda keras pun terpancar di antara suara bising dari deru mesin kereta api listrik.

Tubuh Ahmad dan putri kecilnya yang diketahui bernama Nurul Komariah pun terpental hingga beberapa meter dari tempat sepeda motor mereka tertabrak bagian kepala kereta.

Ahmad menghembuskan nafas terakhir dalam kondisi tubuh menekuk. Dan putri kecil yang masih berusia tujuh tahun itu, jatuh bersimbah darah beberapa meter lebih jauh dari jasad sang ayah.

Keduanya meninggal dunia di bawah sinar mentari yang mulai memerah tanda petang segera menjelang.

Sungguh mengenaskan, tak ada seorang pun warga yang menyaksikan kejadian itu bisa berkata-kata, semua terdiam, dari mulut mereka yang terucap hanyalah sebuah kata. Innalillahi..

Tubuh kedua warga Tanah Koja RT 07, RW 02, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat terkulai lemas menanti dievakuasi dari lokasi.
Perlintasan Kereta Rawa Buaya Menanti Korban Selanjutnya?

Sungguh ironis, Ahmad dan Nurul menjadi korban dari kelalaian PT Kereta Api Indonesia, mereka meregang nyawa di perlintasan kereta api tanpa palang dan petugas jaga.

Sudah lebih dari satu kali baik warga maupun aparat kepolisian yang meminta agar perlintasan Rawa Buaya itu dipasang palang pintu.

Tapi, entah kenapa, PT KAI seakan enggan menuruti permintaan itu.

“Perlintasan tanpa palang pintu. Kita sudah koordinasi. Untuk ke depannya bisa

koordinasi dengan PT KAI, agar untuk keamanan masyarakat dipasang palang pintu dan diberikan petugas,” kata Kasat Lantas Polres Jakarta Barat, AKBP Ipung Purnomo.

Mungkinkan kah harus ada Ahmad dan Nurul lainnya yang menjadi korban, barulah perlintasan Rawa Buaya diberi palang dan petugas jaga. (sumber : Viva.co.id)