Kisah Nabi Ibrahim Jadi Panutan Umat Muslim

0
1135

Lampung Utara, buana informasi.com-Hari Raya Idhul Adha yang biasa disebut dengan hari raya Qurban, mengingatkan kita pada sejarah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk mengurbankan anaknya Ismail. Meski perintah itu sangat berat namun Nabi Ibrahim tetap melaksanakannya, berkat Kesungguhan serta keihklasan Nabi Ibrahim dengan menjalankan perintah Allah SWT. dibalas dengan perubahan (pergantian) putranya (Nabi Ismail) dengan hewan kurban. Hingga pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih.(25/9/2015)

Keteguhan serta kesabaran Nabi Ibrahim ini, telah memberikan suatu kesadaran kepada kita semua bahwasanya Allah SWT, memiliki jawaban atas semua perintah yang diberikan. Allah SWT dengan segala Maha kesempurnaannya, memiliki alasan tertentu didalam setiap ujian yang diberikanNya kepada seluruh hambanya (manusia).

Akhirnya kisah bapak dari para Nabi dan Rasul tersebut, menjadi panutan umat Islam secara turun temurun. Setiap Idhul Adha (Lebaran Haji) tiba, tidak sedikit umat muslim yang terbilang mampu, melakukan penyembelihan Hewan Qurban, baik berupa Sapi, Kerbau dan Kambing.

Untuk pelaksanaan Qurban, ada yang diserahkan ke Masjid, Mushala maupun dikediaman yang bersangkutan, kemudian daging qurban dibagikan pada yang berhak menerimanya terutama kaum.duafa.

Seperti yang dilakukan Azwar Yazid, warga Kelurahan Tanjung Aman, pada Idul Adha tahun ini menyembelih hewan qurban berupa satu ekor sapi di kediamannya, kemudian daging qurban itu dibagikan kepada 300 warga yang berhak” kita memetik makna dari sejarah Nabi Ibrahim, dimana pada Idhul Adha ini mengajarkan kita untuk iklas, saling memberi kepada sesama yang membutuhkan. Namun semua yang kita lakukan ini dengan niat lilahitaala dan ibadah kepada allah SWT” jelas Azwar.

Selain itu Azwar menyatakan” Pemotongan hewan kurban ini, saya lakukan dengan maksud unttuk mencapai 2 dimensi tujuan secara peralel. Dari dimensi ukrowi yaitu semata – mata untuk beribadah dan mencari ridho Allah SWT ( Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah SWT ), sedangkan dari dimensi duniawi adalah semata – mata sebagai bentuk pepedulian sosial, terutama terhadap anak yatim dan kaum duafa, guna merajut tali slaturahim demi kokohnya nilai – nilai ukhawah islamiyah” ungkapnya.

Menurut Azwar, Berqurban memiliki makna yang penting selain mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Berqurban itu berarti, kesunggguhan manusia dengan menyerahkan segalanya kepada Allah Sang Pencipta. Seperti misalnya Nabi Ibrahim yang telah mengikhlaskan Putranya (Nabi Ismail) yang sesungguhnya sangat beliau cintai, dengan perintah Allah maka beliau rela untuk mengurbankan putranya tersebut, hal ini tentunya merupakan wujud dari penyerahan dirinya kepada Allah SWT.” dengan cara berkurban manusia tersebut diajarkan untuk berbagi kepada para mukmin lain, yang pastinya mereka kurang mampu. SWT selalu mempunyai alasan yang sangat kuat untuk memerintahkan para hambanya untuk berqurban. Dengan adanya qurban ini, kaum muslim yang kurang mampu juga ikut merasakan bagaimana indahnya islam dengan adanya hari raya kurban.” jelas Azwar.(Basri Subur)