Kekerasan anak dengan simbol seni

0
603

Buanainformasi.kekerasan-anak-dengan-simbol-seni-bocah-di-balik-topeng-2com – Di Jalanan Jakarta menjelang sore, rombongan pengamen ondel-ondel menambah sesaknya jalan yang padat dan sempit. Lima anak-anak lihai memukul alat gebuk mengiringi dua boneka raksasa ala betawi di pinggiran Jalan Raya Kemang, Jakarta Selatan. Seni budaya dan anak-anak memang sudah mengakar sejak lama. Perlahan simbol anak-anak dibalut kreativitas seni ikut berkembang menghiasi jalanan.

Semua anggota rombongan ondel-ondel mempunyai tugasnya masing-masing. Rata-rata anggotanya masih anak-anak, semuanya berjumlah tujuh orang. Dua remaja mengoperasikan boneka raksasa. Sisanya lima anak memegang alat pukul pengiring, dan dua bocah terakhir memegang bungkus plastik guna menampung uang sembari meminta fulus kepada siapa saja melewati maupun melihat atraksinya.

“Kalau enggak ada panggilan hajatan, kita biasa ngamen keliling juga,” ujar kepala rombongan Duloh, kepada merdeka.com di lokasi, Jakarta Selatan pekan lalu.

Dia bertanggung jawab atas keselamatan anak-anak dalam rombongan saat mengamen. Rombongan ondel-ondel sendiri bermarkas di sekitaran Ciganjur, Jakarta Selatan. Mereka mengamen atas seizin orang tua para anggotanya.”Kita kebanyakan masih pada saudara semua, jadi kalau keliling ada yang bisa dipegang,” ujar lelaki berusia 24 tahun itu.

Selain pengamen anak dengan ‘boneka kepala goyang’, anak-anak juga sering terlibat dalam mengais rizki di jalan bersama rombongan ondel-ondel ala Betawi. Adat seni dan budaya juga jadi pemicu buat anak-anak bergelut dengan kerasnya hidup di jalanan. “Sebetulnya budaya kita juga banyak melibatkan anak-anak, contohnya dalam reog ponorogo,” ujar tokoh pemerhati anak, Seto Mulyadi saat dihubungi melalui telepon selular, Jakarta, pekan lalu.

Sudah sejak lama, kata pria akrab disapa Kak Seto itu, simbol anak-anak memang banyak dipengaruhi budaya kita dalam berkreativitas seni. Lekatnya simbol-simbol anak dalam modus mengamen sudah berkembang sejak lama. Dia menambahkan, ada dua hal terjadi dalam perkembangan anak melakukan kegiatan mengais pundi rezeki di jalan dengan balutan budaya seni.

“Pertama bisa memberikan kegiatan menari, menyanyi, dengan senang bagi anak-anak sendiri,” ujar Kak Seto.

Dan harus dipisahkan antara budaya dengan tindakan kekerasan anak dengan motif ekonomi. Sebuah paksaan orang tua dalam memaksa anak mencari nafkah atau sebuah perilaku berkegiatan seni. “Ini yang harus dikoreksi. Jika di situ ada tindakan, hak pelanggaran anak melalui unsur paksaan. Berbeda dengan membuat anak senang, gembira, itu enggak apa-apa, tinggal dilihat dari anak sendiri menerima, senang atau tidak begitu,” ujarnya dengan nada meninggi.

Dalam hal ini mengamen dengan rasa seperti bermain tanpa adanya unsur paksaan merupakan persyaratan mutlak bagi orang tua yang melibatkan anak-anak terjun di jalanan. “Sebaliknya, termasuk unsur kebudayaan yang dipaksakan terhadap anak juga tidak boleh,” katanya.

Kreativitas seni budaya dan kekerasan anak memang berjarak tipis. Unsur paksaan dengan berjuang memenuhi kebutuhan hidup memang tak dapat dipisahkan. Bagi anak-anak dengan simbol anak dibalut budaya seni sudah bercampur memaksa mereka bergelut dengan kerasnya hidup di jalanan ibu kota.(Sumber : Merdeka.com)