Fadli Zon Kritik Gerakan ‘Save KPK’

0
404

285718_fadli-zon_663_382Buanainformasi.com – Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai bahwa pada saat ini tengah terjadi kebingungan di masyarakat dalam melakukan pemberian dukungan terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi.

Masyarakat, kata dia, cenderung memberikan dukungan terhadap figur yang tanpa disadari telah menjadi simbol pemberantasan korupsi seperti para pimpinan dan penyidik KPK.

Padahal, Fadli mengatakan, dukungan sebenarnya lebih tepat dialamatkan kepada lembaga KPK, bukan tokoh-tokoh yang menjalankan lembaga itu.

“Bila orangnya kotor, bersalah, ya harus dibersihkan. Yang seharusnya diselamatkan oleh gerakan Save KPK itu adalah lembaganya, bukan orangnya,” ujar Fadli dalam sebuFaah acara diskusi yang diselenggarakan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Mei 2015.

Ia mencontohkan kejadian penangkapan salah satu penyidik KPK, Novel Baswedan, oleh Polri beberapa waktu yang lalu. Tanpa disadari, Fadli mengatakan, masyarakat mengidolakan Novel dan membela penyidik KPK itu secara buta.

Ia juga menilai intervensi Presiden Joko Widodo terhadap Novel pada saat polisi melakukan penindakan adalah tidak tepat. Apapun jabatan seseorang, kata dia, sebenarnya adalah sama di hadapan hukum sehingga presiden seharusnya tidak ikut campur dalam penindakan terhadap kasus kriminal yang disangkakan melibatkan Novel.

“Mungkin Presiden belum tahu secara penuh kewenangan yang dimiliki oleh lembaga-lembaga hukum,” ujar Fadli.

Lebih lanjut Fadli mengatakan, masyarakat kini menaruh harapan besar kepada 9 orang ‘srikandi’ anggota panitia seleksi KPK yang telah dipilih oleh Presiden Jokowi.

Siapapun yang akan dilantik untuk memimpin lembaga itu pada akhir tahun 2015 nanti, kata Fadli, haruslah seseorang yang benar-benar berintegritas dan tidak memiliki ambisi kekuasaan dengan memimpin lembaga KPK.

“Jangan sampai KPK hanya dijadikan batu loncatan,” ujar Fadli.

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Singapura, kata Fadli, pimpinan lembaga pemberantasan korupsi adalah seseorang yang murni negarawan, bukan seseorang orang diistilahkan Fadli sebagai ‘orang yang masih memiliki kepentingan dengan dirinya’.

“Kita sekarang harus optimis bahwa orang seperti itu masih ada di negara ini untuk dipilih menjadi pimpinan KPK,” ujar Fadli.(Sumber : Viva.co.id)