50 Tahun di Banjit Warga Bali Syukuran Ngenteg Linggeh

0
1445
50 Tahun di Banjit Warga Bali Syukuran Ngenteg Linggeh
50 Tahun di Banjit Warga Bali Syukuran Ngenteg Linggeh

50 Tahun di Banjit Warga Bali Syukuran Ngenteg Linggeh

[sz-ytvideo url=”https://www.youtube.com/watch?v=ZHZRYMAtrcg” theme=”dark” cover=”youtube” start=”1″ end=”1″ responsive=”y” autoplay=”y” loop=”y” fullscreen=”y” disablekeyboard=”y” disableiframe=”y” disablerelated=”y” delayed=”y” schemaorg=”y” /]

Way Kanan, buanainformasi.com-Kegiatan gelar budaya Ruwat bumi dan Ngenteg Linggeh tidak sekedar latah, namun di dalamnya terkandung nilai sosial, edukatif, rasa kebersamaan dalam banyak ragam perbedaan dan pemberdayaan terhadap Nilai-nilai potensi sumberdaya, kreatifitas manusia serta ikut melestarikan budaya bangsa. (3/9/2016)

Selama 50 tahun bertempat tinggal di Banjit, masyarakat Bali Sadhar mengadakan serangkaian acara syukuran di antanya Ngenteg Linggeh, Ruwat Bumi, ritual memotong gigi bagi remaja laki-laki dan perempuan yang menginjak dewasa, pengangkatan pendeta, Menanam unsure logam berupa emas, perak, besi, perunggu ke dalam bumi di PURA TANGKAS  KORI AGUNG.

Ruwat bumi merupakan ucapan syukuran masyaratkan Bali yang telah menuai kehidupan selama 50 tahun di Desa Bali sadhar Kecamatan  Banjit Kabupaten Way kanan, Lampung. Ngenteg Linggeh pemantapan diri masyarakat Bali untuk manetap di Waykanan.

Pada puncak acara 1 September 2016 Wakil Bupati Waykanan, Edward Antony, bersama dengan Dandim dan Jajaran Polres serta Muli Mekhanai Waykanan menghadiri kegiatan tersebut.

Menurut, Made Sudiarta, akademisi pemerhati komunitas Bali di Lampung, mengatakan, baru kali ini. Ada pengangkatan pendeta, dan proses pengangkatan pendeta seperti ini sangat sakral, melalui proses sedha raga. Sedha adalah meninggal Raga artinya badan. “Jadi jiwa beliau dalam kehidupan mati suri meninggal, menjalankan spiritual, beliau dalam hitungan detik melalui percikan air bisa mati suri selama 2 jam,”ungkapnya. (Basri Subur/ mengabarkan)