102 Kabupaten dari 16 provinsi alami kekeringan parah

0
438

Buanainform102-kabupaten-dari-16-provinsi-alami-kekeringan-parahasi.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 102 kabupaten di Indonesia mengalami kekeringan karena ketersediaan air yang tidak mencukupi serta akibat musim kemarau. Kepala Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kebutuhan air di wilayah tersebut mengalami defisit sekitar 20 miliar meter kubik sudah cukup lama.

“Saat ini, kekeringan telah melanda 16 provinsi yang meliputi 102 kabupaten-kota dan 721 kecamatan di Indonesia hingga akhir Juli 2015,” kata Sutopo, Sabtu (1/8).

Ke-16 provinsi tersebut adalah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bengkulu, Papua, dan Nusa Tenggara Timur.

Kemudian Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Lampung, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, serta Bali.

“Kekeringan paling banyak terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan dan Bali,” tambahnya.

Kekeringan tersebut juga berdampak pada 111 ribu hektare lahan pertanian dan diperkirakan kondisi tersebut semakin meluas. Dia menjelaskan kondisi kekeringan di Tanah Air sebenarnya sudah terjadi sejak lebih dari satu dasawarsa lalu.

“Bahkan berdasarkan kajian Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) di 2003, ada 92 kabupaten-kota di Pulau Jawa yang mengalami defisit air selama satu hingga delapan bulan, dimana 38 di antaranya mengalami defisit air lebih dari enam bulan setiap tahunnya. Itulah yang menyebabkan kekeringan pasti terjadi,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pembangunan waduk di berbagai daerah merupakan hal yang penting untuk mengatasi kekeringan sehingga proses baik pembangunannya maupun pengisiannya juga diharapkan jangan terhambat.

Salah satu pembangunan waduk yang dilakukan Pemerintah saat ini adalah di Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. “Waduk Jatigede justru supaya jangan kekeringan,” kata Wapres Kalla.

Menurut Kalla, paradigma yang seharusnya tersebar di masyarakat adalah supaya jangan kekeringan maka dibutuhkan waduk dan bukan malahan sebaliknya.(Sumber : Merdeka.com)